Kisah Sekolahku

Aku masuk TK dua kali. Pertama, hanya daftar saja dan beberapa kali masuk. Mungkin belum saatnya aku mau sekolah. Kedua, dengan dibarengi niat yang ikhlas akhirnya bisa masuk TK dengan senang hati. Aku masuk TK tidak jauh dari rumah. Dikampungku yang sepi, aku bisa ceria bareng teman-teman di ruangan kecil yang hanya ada sedikit mainan. Dengan itu, rasanya hati amat senang karena banyak teman-teman yang mau diajak main bareng. Di TK alhamdulillah aku berprestasi, dimana ada perlombaan maupun event-event tertentu aku selalu menjadi wakil TK kebanggaanku. Biasanya aku suka mengikuti lomba menggambar dan mungkin mengikuti acara-acara bermain bersama TK-TK yang lain sekecamatan maupun sekabupaten.
Setelah masuk SD. Sama ! Aku berSekolah Dasar di kampungku juga. Tidak jauh dari TK-ku dulu, bahkan berdampingan dengan SD sekarang. Namanya yaitu SDN Paniis, Karena SD-nya bertempat di kampung Paniis. Di SD juga lumayan prestasi dapat membanggakan orang tua. Mulai kelas 4 SD aku selalu dapat peringkat 2 dikelas sampai aku lulus. Sempat juga aku mengikuti lomba cerdas cermat yang pesertanya 3 orang pada tiap-tiap perwakilan SD. Alhamdulillah aku dapat menjadi perwakilan SD-ku tercinta.

Cerdas Cermat yang diadakan sekecamatan itu, aku bersama teman-teman mendapatkan juara 3. Mungkin itu yang menjadi awal prestasiku bisa meraih piala. Disini aku tidak akan menceritakan bagaimana kejadiannya karena terlalu panjang alur ceritanya. Hanya yang perlu tahu yang pentingnya saja, bahwa aku pernah mengalami hal itu.

Dengan prestasi itu aku meneruskan sekolah di SMPN 1 Tanjungkerta. Tempatnya masih satu Kecamatan dengan kampungku. Hanya lumayan, kalau ditempuh dengan jalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di Sekolah. Bisa juga ditempuh melalu naik mobil umum dengan membayar Rp. 500 saja kita bisa sampai di sekolah. Tapi aku sering jalan kaki, disamping irit, aku juga bisa sambil olahraga.

Mengenai prestasi, di SMP aku sangat minim dengan prestasi. Tidak masuk kedalam 10 besarpun dari mulai kelas satu sampai lulus. Pernah juga mungkin 1 kali sewaktu kelas satu semester pertama. Maklum, jiwa prestatif sejak SD-nya masih terasa.

Kelas Dua sudah mulai mengenal dengan pergaulan yang sangat bebas. Pergaulan ini mempengaruhi terhadap belajar aku. Dari mulai belajar merokok sampai pacaran semua aku coba. Tidak akan di ceritan bagaimana kejadiannya karena malu dan tidak terpelajar dengan masa lalu yang kelam itu.

Ujian Nasional ternyata dapat memicu untuk belajar kembali dengan benar dan serius. Aku coba mulai belajar jauh sebelum ujian dimulai, walau tidak terlalu jauh cie… hanya satu dua bulan mungkin. Aku coba menguasai materi-materi yang akan ada di ujian nasional. Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan. Semua soal yang ada sudah aku fahami sebelumnya, jadi pas ujianpun tidak terlalu tegang dan akhirnya aku bisa lulus dengan nilai rata-rata 8, sehingga dapat menggiringku masuk di salah satu SMK favorite di kota bandung.

SMKN 6 Bandung adalah tujuan sekolahku berikutnya. Lumayan cuy, sekolah yang satu ini agak ketat memilih calon-calon muridnya. Persainganpun sangat ketat, bayangkan hampir setengah lebih dari yang daftar ke sekolah ini tidak diterima. Aku saja bisa masuk dengan pilihan kedua. Awalnya kau memilih jurusan Mesin karena alasan orangtua kan ; ada kakak ipar yang kerja di PINDAD, jadi mesti masuk jurusan mesin biar nyambung kerjanya. Tapi tuhan berkehendak lain, aku hanya diterima di jurusan Eloktro, pilihan keduaku. Padahal bobot nilainya cuma kurang 0.5 untuk bisa masuk di jurusan mesin. Tapi mau bagaimana lagi cuy, memang itu sudah aturan mainnya.

Aku sangat menggembari Elektronika, sudah banyak percobaan-percobaan aku buat. Dari mulai lampu berjalan, Radio FM, Amplifier hingga Radio Pemancar. Tapi sayang, aku hanya mengukai satu bidang saja. Aku hanya unggul dan bisa di praktek saja. Tidak untuk teori, apalagi pelajaran formal.

Sejak kelas satu, aku bisa dikatakan rajin. Rajinan menurut standar yang ada. Ketika ada PR aku kerjakan ketika ada praktek aku praktekan sebemnya di rumah, dll. Mungkin rajin yang biasa yang bisa waktu itu. Setelah kelas dua, aku diangkat menjadi ketua Rohis. Entah apa kelebihanku hingga teman-teman dapat mempercayaiku.

Waktupun terus berjalan, hingga kelas dua semester dua sudah mulai tampak kenalan anak SMK yang notabenenya cowo semua. Aku sudah mulai coba-coba dengan pergaulannya yang sudah menjadi lumrah di masyarakat untuk ukuran anak SMK. Dari mulai tidak pernah mengerjakan PR dirumah, sering kesiangan, Kabur dan bahkan tidak sekolah karena bolos. Dengan itu semua aku dapat disidang bersama orang tuaku di ruangan BP. Guru BP yang dulunya baik terhadapku, kini menyalahkanku. Emang aku juga mengakuinya, sekarang aku hanyalah murid bandel seperti kebanyakan murid SMK pada umumnya. Sampai-sampai aku di ancam tidak akan naik kelas karena saking jarangnya aku tidak sekolah, sehingga nilai-nilai banyak yang tidak terpenuhi menurut batas minimum. Bayangkan saja, masa di Raport mesti ada nilai 3,4 dan 5? Waduh-waduh… betapa nakalnya aku waktu itu.

Rohis mungkin adalah satu image yang baik. Tapi itu tidak bagiku, aku bisa bertahan hanya sementara. Memang semua adik kelas menghormatiku, sampai-sampai ketika ketemu di jalan saja mereka mesti salaman denganku (kaya guru saja mesti disalami. hehe).

Tapi itulah aku, wataknya tidak terlepas dari anak nakal yang kasar dan selalu harus apabila hati sudah berkata harus (mau tidak mau mesti harus, bagaimanapun caranya). Inilah mungkin yang menjadi ciri khas anak-anak nakal lainnya, yang sekarang menerap dalam jiwaku.

Disamping itu, aku tidak nakal keterlaluan. Aku juga sangat suka dengan hal-hal yang sifat ulak-ulik. Seperti ngulik komputer misalnya. Aku sudah mulai menekuni komputer ini sejak mulai kelas satu SMK semester dua. Aku sudah mulai membiasakan diri untuk mengetik sepuluh jari waktu itu. Sehingga dapat dirasakan akibat ketika saya menulis cerita ini.

======================================

SD                       : SDN Paniis

SMP                    : SMPN 1 Tanjungkerta

SMK                    : SMKN 6 Bandung

Iklan

2 thoughts on “Kisah Sekolahku

  1. Assalamualaikum

    Sampurasun, sae pisan blog na… Nepangkeun simkuring oge alumni SD Paniis lulusan taun 89, SMP1 Tanjung kerta 92,..

    Wassalamualaikum
    Dadang Ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s