Katro

Apa salah kalau aku ini adalah seorang yang katro. Walau kata katro itu tidak aku mengerti apa maksud’a. Memang kalau dilihat and di bandingkan dengan yang lainnya diriku sedikit agak berbeda. Kita lihat zaman sekarang ; bagaimana anak muda bergaul. Dari pakaian saja sudah kelihatan mana yang gaul apa tidak? Tapi tidak dengan diriku, pakaian saja masih di beliin orang tua. Belum pernah kaya’a sampai seusia ini beli pakaian sendiri.

Kenapa kita bisa membedakan mana yang gaul dan tidak’a dari pakaian? Jelas itu beda, lihat trend mode zaman sekarang. Mereka lebih mengikuti gaya pakaian yang modern yang pakaian itu mereka tiru dari artis-artis idola mereka. Katakan saja celana panjang yang di ketat-ketatkan. Kita kenal gaya celana seperti itu lebih trend dikatakan dengan celana pensil ala ChangChuter Band.

Iya memang Band yang satu ini selalu berpenampilan seperti itu. Dengan badan yang pas-pas dan bisa dikatakan kecil-kecil alias sedikit kerempeng mereka mengenakan celana yang ketat pula. Jelas ini trend bagi mereka karena mereka punya gaya mereka sendiri. Mereka artis, mungkin saja itu adalah salah satu metode bagi mereka supaya dapat di kenal dengan mudah oleh masyarakat lewat gaya’a itu. Kalau kita lihat ChangChuter pasti kita ingat dengan gaya celana pensil’a.

Itu mungkin sedikit perkiraan saya. Bagaimana dengan kita sekarang? Kita mungkin bisa dikatakan gaya dengan itu semua oleh orang-orang di sekitar kita. Bisa dikatakan gaul lah, gak ketinggal zaman lah, mengikuti trend masa kini lah dan berbagai alasan lain’a yang mereka bilang kalau mereka itu tidaklah katro.

Nah bagaimana dengan c’matmund? Jangankan ngikuti trend kaya gituan, celana aja masih di beliin ma ortu’a. Sudah barang tentu’a trend celana yang di pake juga tergantung selera ortu’a. Mungkinkah trend ortu saya sama dengan trend anak muda sekarang? Bisa jadi kalau orang tua saya ngerti keadaan zaman ini. Tapi ini !!! orang tua saya sudah tua, cucu aja dah 4. Jadi bagaimana mungkin tau dengan trend yang kaya gituan, trend celana pensil segala lah, paling yang ada di pikiran’a cuma celana panjang yang bersih dan dapat menutup aurat begitu saja.

Selain pakaian ada juga gaya rambut dan aksesorris-aksessoris lain’a. Biasalah, anak-anak kan gak mau di bilang katro. Salah satu cara adalah mereka musti mengikuti apa yang sedang trend masa kini. Nah terus darimana mereka melihat trend itu? Mau apalagi kalau bukan dari media yang selalu ditontonkan terhadap mereka. Sebenar’a mereka hanyalah mengikuti trend or gaya fans mereka saja. Gak fans paling juga mengikuti gaya yang sering dipake kebanyakan anak-anak seusia’a. Ya begitulah kira-kira anak muda sekarang. Hanya bisa mengikuti arus kemana arah arus itu membawa’a.

Kalau kita merasa berada di zaman sekarang, dimana zaman ini adalah zaman yang menurut saya adalah zaman yang arah’a itu lebih dominan terhadap gaya-gaya barat. Buktina gini aja ; Kamu tahu a7x, muse or apalah Band2 barat yang terkenal lain’a. Coba lihat dan bandingkan lebih banyak mereka yang menyukai/ngefans pada Band2 seperti itu or mereka lebih suka terhadap budaya dimana mereka dilahirkan. Misalkan musik degung, kacapi suling atau musik2 daerah lain’a?

Ini nyata dan jelas kita lihat kalau anak muda sekarang sebenar’a cuma terbawa arus-arus barat saja yang mereka sangka bahwa dengan mengikuti’a dapat dikatakan gaya or keren dan gak ketinggalan zaman. Coba berapa persen anak muda sekarang yang lebih suka lagu degung ketimbang lagu-lagu barat itu? Parah emang kenyataan’a, sudah tidak bisa dipungkiri lagi kalau kita sebener’a sedang dijajah oleh budaya-budaya barat yang menggiurkan terhadap kita sampai-sampai kita kalau tidak mengikuti’a takut di bilang katro or kampungan or apalah hal-hal yang lain’a yang jauh dari kata-kata gaul menurut mereka.

Sungguh prihatin saya melihat kenyataan ini. Tapi bukan berarti kita tidak boleh senang terhadap lagu-lagu mereka. Yaaa,, Setidak’a kita bisa menghargai karya bangsa kita sendiri, karya nenek moyang kita sendiri yang telah lebih dulu berjuang untuk memerdekakan bangsa ini. Kita sekarang enak tinggal merasakan kemerdekaan’a tanpa harus susah payah berjuang cape-cape melawan orang-orang asing yang hendak merampas harta kekayaan dan jiwa kita. Tapi kenapa sekarang justru yang kita hargai/senangi lebih kepada lagu-lagu mereka, lagu-lagu bangsa mereka yang telah menjajah tanah air kita sejak dahulu sedangkan lagu-lagu nenek moyang kita yang telah berjuang dengan bangsa ini malah kita abaikan. Coba dimana letak terima kasih kita kalau kenyataan’a seperti ini?

Coba tarik kesimpulan oleh kalian? Dulu kita dijajah bangsa barat adalah harta kekayaan kita, jiwa dan raga kita tapi sekarang? Sekarang apakah kita tidak sadar kalau kita ini sedang di jajah oleh budaya mereka? Kalau mesti sadar itu… Mereka bangsa barat sudah tidak memungkinkan menjajah kita dengan cara fisik tapi mereka tidak kehabisan akal untuk terus dan terus menjajah kita. Sekarang mereka punya metode baru untuk menjerumuskan kita supaya mau mengikuti kemauan’a.

Kita tahu dengan istilah ; “3F” (Fun, Food and Fashion).

Fun yang berarti kesenangan/hiburan, bagaimana mereka membuat media-media hiburan yang menjauhkan kita dari tindakan-tidakan yang tidak bermoral. Coba lihat tayangan TV sekarang? Banyakan tayangan yang berpendidikan ataukah cuma sebatas hiburan-hiburan biasa? Memang TV kita beli untuk sedikit media hiburan bagi kita. Tapi lihat dampak’a? Bagaimana anak2 yang nonton film2 kartun yang jauh dari kehidupan nyata sehingga anak kita berfikir kepada hal-hal yang tidak mungkin alias impossible.

Lihat tanyangan Doraemon, masa kita bisa berangkat ke masa depan. Aneh !! Dari sana mulailah anak-anak pola fikir’a kesana pula. Tidak sedikit anak-anak kita yang percaya terhadap hal-hal seperti itu. Kalau kita bandingkan terhadap ajaran Agama rasa’a jauh untuk kita kaitkan pesan-pesan moral yang biasa kita tonton. Jadi sebenar’a ini media siapa? Media mereka untuk membuat kita bodoh ataukah budaya tanah air kita yang kita percaya bahwa Tuhan itu Esa. Dimana letak pesan-pesan moral yang mereka tunjukkan untuk kita ? Mereka (media) terlalu menggembor-gemborkan tayangan yang sifat’a impossible kebanding pendidikan. Paling juga di TVRI yang ada acara pendidikan’a seperti belajar B. Inggris or Matematika ada juga acara cerdas cermat yang biasa-biasa saja, lumayanlah buat dasar pembelajaran mah. Tapi sayang itu juga sedikit peminat’a, anak-anak sekarang lebih dominan nonton Film Naruto ketimbang acara2 pendidikan seperti itu. Parahhhhhhhhhh… Daek ue dibobodo ku si Eta.

Food yang berarti makanan,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s